Berikut adalah pilar-pilar kerja kolektif guru yang dibangun oleh PGRI:
1. Kolektivitas dalam Pengembangan Kompetensi
-
Komunitas Praktisi: PGRI di tingkat Ranting dan Cabang menjadi wadah berbagi «praktik baik». Guru senior berbagi pengalaman manajemen kelas, sementara guru muda berbagi literasi digital.
-
SLCC (Smart Learning and Character Center): Ini adalah bentuk kerja kolektif dalam skala besar untuk membedah teknologi terbaru (seperti AI) agar guru secara serentak siap menghadapi tantangan zaman tanpa ada yang tertinggal.
2. Kolektivitas dalam Perlindungan Hukum
Kerja kolektif menjadi «perisai» yang kuat ketika guru menghadapi ancaman kriminalisasi atau intimidasi saat menjalankan tugas.
-
Satu Rasa, Satu Jiwa: Prinsip solidaritas ini memastikan bahwa masalah hukum yang menimpa satu guru menjadi perhatian organisasi secara keseluruhan.
3. Kolektivitas dalam Advokasi Kebijakan
Suara satu guru mungkin akan hilang dalam kebisingan birokrasi, namun suara jutaan guru melalui PGRI adalah kekuatan politik yang tidak bisa diabaikan.
-
Lobi Strategis: Perjuangan status kepegawaian (ASN/PPPK) dan pengawalan Tunjangan Profesi Guru (TPG) adalah hasil dari kerja kolektif para pengurus dan anggota di semua tingkatan.
-
Masukan Kurikulum: PGRI menghimpun aspirasi dari akar rumput untuk memberikan masukan kritis kepada pemerintah, memastikan tata pendidikan tetap membumi dan realistis.
4. Kolektivitas dalam Kesejahteraan Sosial
PGRI membangun jaring pengaman sosial secara mandiri melalui semangat gotong royong anggota.
-
Solidaritas Kemanusiaan: Saat terjadi bencana atau musibah pada anggota, kerja kolektif PGRI mampu menghimpun bantuan secara cepat dan efisien melintasi batas wilayah.
Tabel: Kekuatan Kerja Kolektif Bersama PGRI
| Aspek Kerja | Jika Individu (Sendiri) | Jika Kolektif (Bersama PGRI) |
| Menghadapi Regulasi | Hanya bisa pasrah atau bingung. | Memiliki daya tawar dan saluran aspirasi. |
| Masalah Hukum | Rentan dipojokkan dan ketakutan. | Memiliki perlindungan dan dukungan moral. |
| Inovasi Mengajar | Terbatas pada kreativitas sendiri. | Terakselerasi oleh berbagi ide antar-rekan. |
| Beban Psikologis | Mudah mengalami burnout. | Memiliki ruang berbagi dan penguatan mental. |
Kesimpulan:

